Home » Palestina » KESAKSIAN RELAWAN GAZA: INDONESIA PALESTINA MAKIN DEKAT

KESAKSIAN RELAWAN GAZA: INDONESIA PALESTINA MAKIN DEKAT

Nur Ikhwan AbadiNur Ikhwan Abadi, salah satu relawan yang ikut membangun Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Gaza, Palestina mengatakan Indonesia semakin dekat dan lekat di hati warga Palestina. Menurutnya, Allah Swt saja yang menakdirkan lebih dekat dengan Masjid Al Aqsha. “Allah takdirkan kita lebih dekat dengan Gaza,” demikian ungkapnya saat bertandang ke redaksi Mi’raj News Agency (MINA).

Menurut pria asal Lampung itu, RSI merupakan amanah dari rakyat Indosesia untuk rakyat Palestina. Karena itu tambahnya, rakyat Indonesia sendiri yang harus mengawal pengerjaannya dari awal hingga akhir. “Kita sendiri yang harus mengerjakan dan mengawasinya hingga benar-benar selesai dan siap dimanfaatkan keberadaannya oleh rakyat Gaza dan Palestina umumnya,” katanya.

Sejak Gzawah Fathul Aqsha (Pembebasan Masjid Al Aqsha) dikumandangkan oleh Jama’ah Muslimin (Hizbullah) pada tahun 2006, maka sejak saat itulah aksi nyata untuk benar-benar melakukan pembelaan terhadap Palestina dimulai. Aksi pembelaan terhadap Palestina dan Masjid Al Aqsha itu diawali dengan melakukan long march pada malam hari di berbagai tempat di Indonesia antara lain; Jakarta, Bandung, Semarang, Kuningan, Surabaya, Wonogiri, Medan, Jambi, Lampung, Pontianak, Samarinda, Sumedang, Bogor, Tasikmalaya dan berbagai tempat lainnya di Indonesia bahkan sampai ke Malaysia dan Filipina. Masing-masing agenda long march itu diisi dengan rangkaian acara Cinta Al Aqsha, Gerak Jalan Cinta Al Aqsha (GJCA) dengan jarak long march yang beragam jaraknya, 20-225 km dan bersambung dengan Global March to Jerusalem (GMJ) pada 30 Maret 2012 lalu.Pernyataan Ghazwah Fathul Aqsha meresap ke berbagai kegiatan Jama’ah Muslimin (Hizbullah). Rangkaian acara pendamping GJCA seperti Tabligh Akbar, pameran foto Palestina, seminar-seminar tentang cinta Al Aqsha, termasuk yang tak kalah penting lahirnya Konferensi Internasional Pembebasan Masjid Al Aqsha dan Palestina di Bandung,4-5 Juli 2012, yang menghadirkan lebih dari 300 orang dari 20 negeri seperti Malaysia, Filipina, Palestina, Yordania, Inggris, Maroko, Turki, dan berbagai negeri lainnya. Konferensi itu dibuka langsung oleh Imaam Masjid Al Aqsha, Dr. Syaikh Ali Al Abbasi.

Sebelumnya, pada 2009, Jama’ah Muslimin (Hizbullah) mengirim 25 mujahid berasal dari berbagai daerah di Indonesia ke Muassasah/Yayasan Al-Quds/Muassasah Syeikh Abdullah Al-Ahmar Shana’a Yaman untuk memperdalam pengetahuan tentang Al Quds termasuk di dalamnya Masjid Al Aqsha. “Ini adalah bukti keseriusan kita untuk membebaskan Al Aqsha,” tambah Nur Ikwan.

Setahun setelah itu, 15-29 Mei 2010 Jama’ah Muslimin (Hizbullah) melaksanakan Dauroh (Pendidikan Kilat) Al Quds serupa di Depok, Jawa Barat dengan peserta 42 orang dengan tiga pengajarnya langsung didatangkan dari Yaman.

Pada 2009, 68 mujahid diutus untuk melihat Al-Quds secara langsung, termasuk Nur Ikhwan Abadi sendiri menyaksikan benar keadaanya Al Aqsha. “Kita sendiri tidak pernah tahu Al Aqsha yang jauh di sana, dengan kemampuan kita sekalipun. Kita bisa berkunung ke Al Aqsha, bisa jadi karena Allah sudah melihat keistikomahan kita selama ini untuk sungguh-sungguh memperjuangkan pembebasan Masjid Al Aqsha,” kata Ikhwan.

“Saat saya dan beberap yang lain berkunjung ke Masjid Al Aqsha, kondisinya sangat memprihatinkan. Al Aqsha dikuasai Israel dan ini penghinaan bagi Muslimin. Bagaimana tidak, bila kita mau beribadah di dalamnya tidak boleh, harus diperiksa dulu. Tentara Israel selalu berjaga di tiap gerbangnya, minimal 2 sampai 3 orang di sana. Al Aqsha ditutup jam 10 malam dan baru dibuka kembali jam 4 menjelang fajar. Selama ditutup kita tidak bisa masuk ke sana,” ungkapnya dengan nada sedih.

Ia menceritakan bahwa saat berada ia dan semuat rombongan berada di Masjid Al AqshaDi Masjid Al Aqsha, mereka bisa bertemu langsung dengan Imaam Masjid Al Aqsha, Syaikh Ali Al-Abbasi yang pada Juli 2012 pernah menjadi pembicara utama Konferensi Pembebasan Masjid Al Aqsha dan Palestina di Bandung.

Bagai mimpi

Menginjakkan kaki di bumi Gaza, Palestina menurut Nur Ikhwan tak ubahnya seperti mimpi. Dia tak pernah mengira akhirnya bisa mendatangi Gaza dan berdiam di bumi yang diberkahi itu lebih dari setahun. Lagi-lagi Ikhwan mengatakan semua itu terjadi atas kehendak Allah Swt. Saat di Gaza, Ikhwan menjalin persahabatan dengan Insani Yardim Vakfi dari IHH (Turkish Humanitarian Aid Foundation) sebuah LSM asal Turki. Bersama IHH itulah ia dan LSM lainnya melakukan pelayaran ke Gaza dengan menggunakan kapal KM. Mavi Marmara via Turki, Siprus, Laut Mediterania dimana kemudian kapal itu dibajak Zionis Israel sebelum sampai Gaza.

Pembajakan Mavi Marmara, 31 Mei 2010 oleh Israel di Laut Mediterania menuai berbagai kecaman dunia internasional. Meski keadaan genting, akhirnya Nur Ikhwan berhasil menembus Gaza melalui pintu perbatasan Rafah Mesir. “Saat peristiwa itu beberapa perlengkapan saya diambil oleh tentara Israel. Tapi saya bersyukur karena masih diberi kesempatan masuk ke Gaza,” katanya. Setelah setahun lebih di Gaza, Nur Ikhwan diizinkan pulang ke Indonesia, dan ia diberangkatkan kembali ke Gaza melalui Rafah Mesir.

Pada 2010, Jama’ah Muslimin (Hizbullah) atau dikenal juga dengan Pesantren Al-Fatah dan MER-C mengirimkan beberapa relawan RSI Gaza yang jaraknya sekitar 70 km dari Al-Quds, kita semakin dekat dengan Masjid Al-Aqsha. Akhir tahun 2010, Jama’ah Muslimin (Hizbullah), kembali mengirimkan 5 relawannya antara lain; Edy Wahyudi, Ahmad Fauzi, Abdurrahman Parmo, Muhammad Husain dan Darusman untuk mengikuti Asia Caravan to Gaza dengan rute Dubai, Iran, Turki, Suriah, Lebanon, Rafah Mesir, Gaza. Setibanya 5 relawan tersebut di Gaza, Nur Ikhwan mendapat pesan singkat yang isinya agar ke 5 orang tadi dipertahankan dulu di Gaza.

“Saat itu, mereka belum tahu mau akan dipertahankan di Gaza. Reaksi para relawan sangat kaget. Mulanya mereka hanya beberapa hari saja akan diam di Gaza, tapi karena diminta juga untuk mengawal persiapan pembangunan tahap 2 RSI, maka 5 orang relawan itu ditahan dulu. Padahal bekal yang dibawa ke 5 relawan itu sangat sedikit,” kata Ikhwan.

Sampai sekarang ada yang sudah 1 tahun, 1 tahun lebih, 2 tahun bertahan di Gaza. Bukan sekedar datang dan pulang lagi, melainkan untuk menetap beberapa tahun di Gaza, yang tiap harinya selalu dipantau oleh Zionis Israel. Lima orang mengawal proses pembangunan RSI tahap pertama pada 2011 sampai 2012, mulai dari tender, penggambaran, pembangunan sampai dengan selesai pembangunan RSI. Ini semua agar kita lebih dekat dengan Al-Aqsha. Agar kita tahu persis apa yang terjadi di sana.

Di tengah perjalanan pembangunan RSI, dengan berdasar pada pengalaman mendatangkan orang ke Gaza dan tersedianya material bangunan yang cukup. “Saya berpikir untuk tahap kedua, pembangunan RSI ini seharusnya dijalankan sendiri dengan kembali mendatangkan para relawan dari Indonesia agar biaya operasionalnya bisa lebih hemat 20-30%,” terang Ikhwan.

Idenya disambut baik oleh Mer-C Pada Jumat, 20 Juli 2012 MER-C bekerja sama dengan Al-Fatah mengirimkan empat relawan Teknisi RSI ke Gaza: Wanto, Sumadi, Mulyadi, Sario melalui pintu perbatasan Rafah Mesir. Sabtu 21 Juli, pukul 21.00 WIB atau 16.00 waktu Gaza ke empat relawan tiba di Gaza. Tahap kedua pembangunan RSI dimulai.

MER-C bekerja sama dengan Al-Fatah kembali mengirimkan sebelas relawan RSI ke Gaza: Abdul Azis, Zein, Agus, Bukhori, Edy Siswanto, Joko, Karidi, Luthfi, Mulkan, Mulyadi, Mulyono, Paidi, Abdurrahman, Rochman, Bowo, Sulis, Yitno, Syamsudin, Syuhada, Tata, Wahyo melalui Rafah Mesir. Akhir Februari lalu MER-C bekerja sama dengan Al-Fatah kembali memberangkatkan empat relawan RSI ke Gaza: M. Saleh Iskandar, Edy Wahyudi, M Fikri, Reza via Rafah Mesir.

Saat ini di Gaza ada 30 relawan RSI yang masih melakukan pembangunan tahap kedua. Ide memakai relawan dari Indonesia muncul dari pihak MER-C yang kembali memerlukan tambahan 10 relawan untuk dikirimkan ke Gaza. Sebelumnya akan diseleksi beberapa orang dari berbagai provinsi di Tanah Air untuk mendapatkan 10 relawan, Imam Jama’ah Muslimin (Hizbullah) sendiri mengambil sikap positif dan akan menyeleksi beberapa relawannya.

Selain menyelesaikan pembangunan RSI di Gaza, beberapa relawan menimba ilmu di Universitas Islam Gaza. Mereka itu adalah M. Husain, Muqorrobin Al-Fikri, dan Reza Adilla. Juga Ust. M. Sholeh Iskandar yang memperdalam Ilmu Tahfidzul Qur’an termasuk dengan metode Taajul Waqar di Daarul Qur’an Al Karim was Sunnah, Gaza yang dikelola oleh Dr. Syaikh Abdurrahman Yusuf Al-Jamal yang juga merupakan parlemen Palestina.(L/P06/P012/R2).

Mi’raj News Agency (MINA)

sumber : http://www.mirajnews.com/palestina/3833-kesaksian-relawan-rsi-gaza-palestina-indonesia-sangat-dekat.html


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

MI’RAJ NEWS AGENCY

MI'RAJ NEWS AGENCY

RAMADHAN 1434 H

Ramadhan 1434 H
%d bloggers like this: