Home » Tausiyah » URGENSI PENGUASAAN MEDIA BAGI UMAT ISLAM

URGENSI PENGUASAAN MEDIA BAGI UMAT ISLAM

Oleh: Supardi, MP*

Orang-orang kafir dahulu berupaya memadamkan cahaya Allah dengan mengatakan berbagai tuduhan dusta tentang Islam, sehingga orang-orang yang tidak tahu menganggap Islam dengan anggapan-anggapan yang salah.

Begitu pun yang terjadi saat ini, orang-orang kafir selalu mencitrakan Islam dan Muslimin dengan citra yang buruk dengan mulut-mulut mereka yang hina, dengan kemampuan logika mereka, dan berita berita bohong  yang mereka buat. Dengan corong media massa yang mereka miliki dan menjangkau seluruh dunia, mereka dengan mudah menyematkan berbagai label kepada umat Islam.

Label-label itu antara lain sebutan teroris, radikal, anarkis, fundamentalis dan berbagai label yang melecehkan umat Islam. Kekejaman Zionis Israel begitu nyata membantai umat Islam di Palestina mereka tutup tutupi sedangkan apabila ada perbuatan sebagian umat Islam sedikit saja yang menurut mereka salah maka langsung di-blow up, mereka umumkan bahwa memang begitulah umat Islam yang terbelakang dan barbar.Hal ini sesuai dengan firman Allah Swt dalam  Al-Qur’an surat Ash-Shaf ayat 8,

يُرِيدُونَلِيُطْفِئُوانُورَاللَّهِبِأَفْوَاهِهِمْوَاللَّهُمُتِمُّنُورِهِوَلَوْكَرِهَالْكَافِرُونَ

“Mereka hendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut mereka, sedangkan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya, sekalipun orang-orang kafir tidak suka (akan yang demikian).”

Ibnu Katsir  menjelaskan, orang-orang kafir yaitu musyrikin dan ahli kitab (Yahudi dan Nasrani) ingin memadamkan cahaya Allah, artinya (ingin memadamkan) apa yang dibawa utusan Allah, yaitu petunjuk dan agama yang haq(benar) ingin mereka padamkan dengan bantahan-bantahan dan kebohongan-kebohongan mereka. Maka perumpamaan upaya orang-orang kafir itu seperti orang yang ingin memadamkan sinar matahari atau cahaya rembulan dengan cara meniupnya, ini tidak mungkin. Demikian pula Rasul yang Allah utus dengan agamaNya pastilah akan sempurna dan tampak.

Asbabunnuzul ayat ini adalah sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, bahwa pernah wahyu tidak turun kepada Nabi Muhammad saw. selama empat puluh hari. Maka berkatalah seorang pembesar Yahudi, Kaab bin Asyraf, “Hai orang-orang Yahudi, bergembiralah kamu semuanya, Allah telah memadamkan cahaya Muhammad dengan tidak lagi menurunkan wahyu kepadanya dan Dia tidak akan menyempurnakan cahaya itu”. Mendengar ucapan Kaab itu Rasulullah merasa sedih. Maka turunlah ayat di atas, setelah itu wahyu turun lagi.

Sayyid Qutb dalam Tafsir Fi Zhilalil Quran mengatakan bahwa sudah menjadi tabiat yang pasti bahwa hubungan antara manhaj Allah dengan manhaj-manhaj jahiliyyah tidak mungkin hidup bersama kecuali di bawah naungan, kondisi, dan syarat-syarat tertentu.

Sebab, manhaj Islam pasti ingin mendominasi keadaan untuk bisa menjalankan misi membebaskan manusia dari penghambaan kepada sesama manusia menuju penghambaan kepada Allah semata. Sementara itu disisi lain manhaj jahiliyyah ingin mempertahankan eksistensi mereka, sehingga akan selalu berusaha untuk menjatuhkan gerakan apapun yang memegang manhaj Allah.

Mereka yang mempertuhankan sesama manusia dan mempertuhankan apa pun selain Allah akan terus melakukan konspirasi untuk menghalang-halangi manusia dari jalan Allah Swt. Mereka akan memaksakan berbagai pola hidup jahiliyah kepada penduduk bumi untuk menyingkirkan peranan syariat Allah Swt sehingga manusia tidak bisa melihat rahmat Allah yang terpancar melalui penerapan hukum syariat-Nya dari muka bumi ini dengan maksud memadamkan cahaya Allah.

Media masa telah menjadi perpanjangan mulut kaum kafir saat ini. Media massa adalah salah satu sarana yang paling efektif yang mereka gunakan dalam usaha memadamkan cahaya kebenaran itu. Mereka tahu benar bahwa satu-satunya jalan untuk memperbaiki citra mereka menghancurkan citra Islam dan Muslimin di hadapan masyarakat internasional dan adalah dengan mendominasi media massa internasional.

Pada tahun 1869, seorang rabi Yahudi, Rashoron, dalam suatu khutbahnya di kota Braga mengungkapkan betapa pentingnya media massa tersebut hingga dia mengatakan, “Jika emas merupakan kekuatan pertama kita untuk mendominasi dunia, maka dunia jurnalistik merupakan kekuatan kedua bagi kita.”

Konferensi Zionis pertama di Swiss pada tahun 1897 yang dipimpin oleh Theodor Herzl merupakan titik awal perubahan terpenting yahudi. Dalam kesempatan itu, masyarakat Yahudi mendiskusikan bahwa cita-cita mendirikan negara Israel Raya tidak akan terwujud tanpa pengubahan atas media massa. Realisasinya, rencana-rencana bidang jurnalistik, mereka tuangkan dalam Rencana Kerja Pemimpin-pemimpin Zionis nomor 12 berikut ini.

Pertama, menguasai dunia pers dan mengendalikannya. Kedua, tidak memberi kesempatan kepada media massa non-Yahudi yang memuat gagasan-gagasan anti-Yahudi.

Ketiga, melakukan sensor ketat sebelum berita disiarkan. Keempat, menerbitkan berbagai macam media massa untuk mendukung kelompok masyarakat aristokrat, republikan, revolusioner, hingga kelompok anarki.

Kelima, mempengaruhi opini publik saat diperlukan sekaligus meredam gejolak yang timbul. Keenam, memberikan dorongan kepada orang-orang jenius untuk mengendalikan media massa yang beroplah besar, khususnya pers anti-Yahudi. Jika suatu saat orang-orang tersebut menunjukkan gejala-gejala tidak setia, skandal-skandalnya akan dibongkar. Hal itu sekaligus merupakan pelajaran bagi yang lainnya.

Saat ini, mayoritas media massa dikuasai oleh Non Muslim. Media massa terkemuka seperti TV CNN, majalah Time, The New York Times dikuasai oleh mereka. Begitu pula dengan Hollywood yang film-filmnya ditonton jutaan orang. Tak jarang film-film Hollywood mempropagandakan gaya hidup sex bebas dan mencitrakan muslimin sebagai kaum antagonis yang terbelakang, bar-bar, dan teroris.

Contoh pengaruh penguasaan yang cukup mencolok  yaitu tentang Palestina. Media Barat benar-benar tidak seimbang (memihak) dalam menyajikan berita, apalagi analisis, tentang perjuangan Bangsa Palestina. Bangsa Palestina yang memperjuangkan hak-haknya yang legal dan sangat asasi dari rampasan Bangsa Israel digambarkan oleh pers Barat sebagai “teroris”. Perjuangan HAMAS yang didukung oleh mayoritas Rakyat Palestina dianggap sebagai tindakan “terorisme”.

Sementara, Entitas Zionis Israel yang sesungguhnya perampok digambarkan sebagai pemerintah yang legal dan benar yang sedang teraniaya. Kejahatan tentara-tentara Israel yang “menyembelih” rakyat Palestina hampir setiap hari tidak disebut sebagai tindakan terorisme. Serangan-serangan militer Israel ke Gaza yang banyak  memakan korban tewas dan luka-luka tidak dianggap sebagai tindakan terorisme tapi tindakan membela diri.

Bahkan, Amerika  telah memanfaatkan isu  terorisme sebagai instumen kebijakan standar untuk memukul atau menindas lawan-lawannya dari kalangan Islam. Dengan alasan “memerangi terorisme”, AS dan rezim-rezim sekutunya diberbagai negara merasa leluasa dan “berada di jalan yang benar” ketika membasmi gerakan-gerakan Islam penentangnya yang mereka sebut “kelompok fundamentalis Islam”.

Secara faktual, media massa memiliki fungsi “to influence”. Ia dapat memberikan efek pembentukan citra, baik individu maupun kelompok. Sebuah citra akan terbentuk berdasarkan informasi yang terima oleh masyarakat, karena informasi dapat membentuk, mempertahankan atau mendefinisikan citra. Media massa mampu menjadi sarana yang sangat efektif  untuk menyampaikan informasi kepada khalayak, karena ia menjangkau ruang dan waktu. Maka, citra muslimin yang terlanjur tersemat sebagai teroris dunia harus dirubah dengan penguasaan media massa  oleh kaum Muslimin.

Penguasaan media massa oleh kaum Muslimin akan berpengaruh signifikan terhadap muslimin. Masyarakat dunia, terutama Barat akan lebih dekat dan lebih kenal dengan Islam melalui umat Islam sendiri. Media massa akan menjembatani kesalahfahaman yang selalu terjadi terhadap Islam dan kaum Muslimin. Hal ini karena ketidaksukaan masyarakat Barat terhadap Islam yang terjadi saat ini lebih disebabkan karena kesalahan informasi sebagai imbas dari dominasi media kafir.

Media massa Islam  akan menjadi media komunikasi yang efektif untuk menjelaskan dan memperlihatkan wajah Islam yang sesungguhnya. Nasib umat Islam diluar Barat akan disuarakan dan penderitaan demi penderitaan negara-negara Muslim akibat dominasi Barat yang kebijakannya sering yang tidak adil akan berkurang. Selain itu, dengan penguasaan media massa, maka muslimin dapat menyampaikan pesan-pesan Ilahi kepada masyarakat Internasional dengan bebas tanpa harus melalui sensor kaum kafirin. Wallahu A’lam.(R2).

*Supardi, alumni S1 STAI AL FATAH Bogor dan Pasca Sarjana Jur. Ilmu Kehutanan Unmul Samarinda Kaltim. Pengurus ponpes shuffah Hizbullah Samarinda Kalimantan Timur.

sumber : www.mirajnews.com


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

MI’RAJ NEWS AGENCY

MI'RAJ NEWS AGENCY

RAMADHAN 1434 H

Ramadhan 1434 H
%d bloggers like this: