Home » Mukjizat Al-Quran » PASTI ADA KEMUDAHAN

PASTI ADA KEMUDAHAN

Oleh: KH. Drs. Yakhsyallah Mansur, M.A.*

pasti ada kemudahanFirman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ  ١ وَوَضَعْنَا عَنْكَ وِزْرَكَ ٢ الَّذِي أَنْقَضَ ظَهْرَكَ ٣ وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ ٤ فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ٥ إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ٦ فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ ٧ وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَارْغَبْ ٨ / الشرح [٩٤]: ١- ٨.

(Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu? (1) Dan telah Kami lepaskan darimu bebanmu, (2) Yang memberatkan punggungmu? (3) Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu, (4) Karena sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.(5) Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. (6) Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. (7) Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap. (8) – Q.S. Asy-Syarh [94]: 1-8).

Surah ini turun sebelum Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berhijrah ke Madinah dan merupakan wahyu ke 12 yang turun setelah surah Adh-Dhuha dan sebelum surah Al-‘Ashr.

Imam Jalaluddin As-Suyuthi dalam Lubabun Nuqul fi Asbabin Nuzul mengatakan bahwa surah ini turun ketika kaum Musyrikin memperolok-olok kaum Muslimin karena kemiskinan mereka. Sementara Ibnu Jarir menyatakan bahwa ketika turun firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا/ الشرح [٩٤] :٦.

(Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.– Q.S. Asy-Syarh [94]: 6).

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Bergembiralah kalian karena akan datang kemudahan bagi kalian. Kesulitan tidak akan mengalahkan dua kemudahan.”

Surah ini tema utamanya adalah penenang hati Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyangkut masa lalu dan masa datang serta tuntunan untuk berusaha sekuat tenaga dengan penuh optimisme.

أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ/ الشرح [٩٤] :١.

(Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu? – Q.S. Asy-Syarh [94]: 1).

Kata نشرح berasal dari kata شرح (syaraha) yang antara lain berarti memperluas, melapangkan baik secara material maupun immaterial. Kalau kata ini dikaitkan sesuatu yang bersifat material, dapat berarti memotong atau membedah. Misalnya شرح اللحم berarti memotong daging. Sedang bila dikaitkan dengan yang bersifat immaterial berarti membuka, menjelaskan, melapangkan dan sebagainya.

Yang dimaksud, “melapangkan dada” pada ayat ini adalah dalam pengertian immaterial. Artinya dada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang tadinya sempit karena susah atau sedih, karena menghadapi berbagai macam tantangan dalam berdakwah telah dilapangkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sehingga beliau mampu menerima tugas kenabian yang sangat berat dan mampu menjaga wahyu yang diturunkan kepada beliau untuk disampaikan kepada umat walaupun banyak tantangan yang dihadapi.

Kata شرح yang serupa artinya dengan ayat ini terdapat juga pada firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

أَفَمَنْ شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ فَهُوَ عَلَىٰ نُورٍ مِنْ رَبِّهِ ۚ فَوَيْلٌ لِلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ/ الزمر [٣٩]: ٢٢.

(Apakah orang-orang yang dilapangkan Allah dadanya untuk menerima Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata. – Q.S. Az-Zumar [39]: 22)

Menurut Asy-Syaukani dalam “Fathul Qadir” kalimat pertanyaan (istifham) apabila masuk dalam kalimat negatif (nafy) maksudnya adalah untuk menetapkan. Jadi maksud ayat ini adalah “Kami benar-benar telah melapangkan untukmu dadamu.” Dan disebutkannya dada secara khusus adalah karena dada adalah pusat aktivitas jiwa manusia yang berkaitan dengan segala macam ilmu dan pengetahuan.

Menurut Ibnu Katsir ada sebagian ulama yang berpendapat bahwa ayat ini berkaitan dengan pembedahan dada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebelum peristiwa Isra’ dan Mi’raj.

وَوَضَعْنَا عَنْكَ وِزْرَكَ ٢ الَّذِي أَنْقَضَ ظَهْرَكَ ٣/ الشرح[٩٤]: ٢- ٣.

(Dan telah Kami lepaskan darimu bebanmu, (2) Yang memberatkan punggungmu? (3) –Q.S. Asy-Syarh [94]: 2-3)

Di samping telah melapangkan dada, Allah Subhanahu wa Ta’ala juga telah melepaskan dan menanggalkan beban yang memberatkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Kata وضع mempunyai arti antara lain meletakkan, merendahkan dan meringankan. Pada umumnya Al-Qur’an menggunakannya untuk sesuatu yang berat kemudian menjadi ringan, misalnya seorang yang melahirkan anak (Q.S. Ali Imran [3], 36)

فَلَمَّا وَضَعَتْهَا قَالَتْ رَبِّ إِنِّي وَضَعْتُهَا أُنْثَىٰ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا وَضَعَتْ وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالْأُنْثَىٰ ۖ وَإِنِّي سَمَّيْتُهَا مَرْيَمَ وَإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ/ ال عمران [٣]: ٣٦.

(Maka tatkala isteri ´Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: “Ya Tuhanku, sesunguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk”. – Q.S. Ali Imran [3]: 36)

Kata وزر pada asalnya berarti gunung yang digunakan untuk tempat berlindung. Gunung yang demikian ini sudah tentu berat dan besar. Kata ini kemudian digunakan untuk pengertian dosa karena orang yang berdosa merasakan di dalam jiwanya sesuatu yang berat. Di samping itu dosa akan menjadi sesuatu yang sangat berat dipikul pelakunya di hari kiamat.

Kata أنقض terambil dari kata نقيض yang artinya suara yang timbul dari sesuatu karena menahan beban berat seperti suara kayu atau bambu yang mengeluarkan suara karena beratnya barang yang dipikul.

Beberapa ulama tafsir menyatakan bahwa “beban berat” adalah tekanan dosa yang menimpa perasaan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di zaman Jahiliyyah, meskipun di zaman Jahiliyyah beliau tidak pernah menyembah berhala. Al-Qurthubiy menguatkan arti “wizraka” adalah dosa. Ibnu Katsir mengatakan bahwa maksud “Dan Kami lepaskan darimu bebanmu (2)” adalah mengampuni dosa-dosa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, sebagai mana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

لِّيَغۡفِرَ لَكَ ٱللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِن ذَنۢبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعۡمَتَهُ ۥ عَلَيۡكَ وَيَہۡدِيَكَ صِرَٲطًا مُّسۡتَقِيۡمًا/ الفتح [٤٨] : ٢.

(Supaya Allah memberikan ampunan kepadamu (Muhammad) atas dosa-dosamu yang lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan ni’mat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus. – Q.S. Al-Fath [48]: 2)

Ulama tafsir yang lain termasuk di antaranya Musthafa Al-Maraghi menyatakan bahwa “beban berat” itu adalah tanggung jawab risalah atau nubuwah, sebab menjadi nabi dan rasul adalah beban yang sangat berat. Beban inilah yang diringankan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sehingga tidak berat memikulnya dan dapat dengan mudah melaksanakannya.

وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ/ الشرح[٩٤]: ٤.

(Dan Kami meninggikan sebutanmu. – Q.S. Asy-Syarh [94]: 4).

Meskipun demikian beratnya beban kenabian yang seakan-akan membuat tulang punggung menjadi bungkuk, nama sebutanmu atau namamu Kami tinggikan. Mujahid berkata, “Tidaklah nama-Ku disebut kecuali namamu disebut bersama nama-Ku.” Imam Syafi’i berkata, “Kalau orang mengucapkan ‘asyhadu alla Ilaha Illallah’ barulah sah setelah diiringkan dengan ‘wa asyhadu anna Muhammad Rasulullah.”

Ketinggian nama Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga tercermin pada syiar-syiar agama lainnya seperti disebut saat adzan, iqomah dan kewajiban tha’at kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam merupakan bagian dari ketha’atan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ٥ إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ٦ / الشرح[٩٤]: ٥-٦.

Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan (5) Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan (6)

Ibnu Abi  Hatim meriwayatkan asbabun nuzul ayat ini dari Anas bin Malik berkata, “Adalah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sedang duduk dan di depannya ada sebuah batu. Maka beliau bersabda, ‘Seandainya kesulitan masuk ke dalam batu ini niscaya kemudahan akan masuk ke dalam batu ini untuk mendorong kesulitan keluar dari dalamnya.’ Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan dua ayat di atas.

Kata مَعَ yang arti harfiah adalah “bersama” dipahami oleh sebagian ahli tafsir dengan “sesudah”, seperti pada ayat:

سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا/ الطلاق [٦٥]: ٧.

(Allah akan memberi kemudahan sesudah kesulitan. – Q.S. Ath-Thalaq [65]: 7).

Az-Zawahsyari menjelaskan bahwa penggunaan kata “bersama” walaupun maksudnya “sesudah” adalah untuk menggambarkan betapa dekat dan singkatnya waktu kedatangan kemudahan sesudah kesulitan.

Kedua ayat ini menganjurkan kepada manusia agar selalu berfikir positif karena bersama kesulitan pasti terdapat kemudahan. Dan apabila مَعَ diartikan sesudah, berarti sesudah kesulitan pasti akan segera datang kemudahan.

Pengulangan dua ayat di atas dapat difahami bahwa dalam hidup ini kesulitan dan kemudahan akan terus terjadi dan berulang-ulang. Yang sulit saja tidak ada. Yang mudah saja juga tidak ada. Namun dengan melihat susunan ayat 5 dan 6 bahwa kata “usrin” (kesulitan) yang tercantum di ayat 6 terjepit di antara dua “yusran” (kemudahan), maka kesulitan tidak akan menang menghadapi kemudahan.

Imam Malik meriwayatkan bahwa Abu Ubaidah bin Al-Jarrah menulis surat kepada Umar bin Khatthab yang isinya menerangkan bahwa tentara Rum yang sangat besar telah siap menyerang mereka dengan kekuatan yang sangat mengkhawatirkan. Maka Umar bin Khatthab membalas surat tersebut, di antara isinya, “Amma ba’du: Bagaimanapun kesulitan yang dihadapi seorang mukmin, Allah pasti melepaskannya dari kesulitan itu karena satu usrin (kesulitan) tidak akan dapat mengalahkan dua yusran (kemudahan).”

فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ/ الشرح[٩٤]: ٧.

(Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), maka tegaklah (kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain). – Q.S. Asy-Syarh [94]: 7).

Maksudnya apabila suatu pekerjaan sudah selesai atau suatu rencana sudah menjadi kenyataan maka bersiaplah untuk tegak atau bangkit kembali memulai pekerjaan yang baru.

Kata نصب dipahami sebagai upaya menegakkan sesuatu yang dilakukan dengan sungguh-sungguh sehingga mengakibatkan keletihan dan dari sini kata ini digunakan juga untuk arti letih. Oleh karena itu Al-Maraghi ketika menafsirkan ayat ini menyatakan, “Apabila engkau telah selesai mengerjakan suatu pekerjaan maka lanjutkan dengan pekerjaan lain hingga letih.”

Dengan demikian ayat ini merupakan isyarat agar dalam melakukan suatu pekerjaan hendaknya dilakukan dengan sungguh-sungguh dan selesai (tuntas).

وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَارْغَبْ/ الشرح [٩٤]: ٨.

(Dan kepada Tuhanmu hendaknya kamu berharap. – Q.S. Asy-Syarh [94]: 8).

Inilah pedoman hidup sejati bagi setiap orang yang memikul tanggung jawab berat dalam menjalankan syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Apabila telah selesai satu pekerjaan, mulai lagi pekerjaan yang baru. Jangan takut menghadapi kesulitan, karena dalam kesulitan pasti ada kemudahan, asal harapan hanya tertuju kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala karena Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan mengecewakan orang yang berharap kepada-Nya. Wallahu A’lam bis Shawwab. (T/P06/R2).

*Pimpinan Ma’had Al-Fatah Indonesia

sumber : www.mirajnews.com


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

MI’RAJ NEWS AGENCY

MI'RAJ NEWS AGENCY

RAMADHAN 1434 H

Ramadhan 1434 H
%d bloggers like this: